Muhammad bin Abdul Wahhab dan Gerakan Wahhabisme: Latar Sejarah, Aliansi Politik, dan Kontroversi
Artikel ini disusun untuk konteks sejarah dan kajian akademik, bukan sebagai fatwa keagamaan. Setiap klaim kontroversial ditandai sebagai perspektif tertentu agar pembaca dapat menelusuri sumbernya.
Ringkasan: Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792) adalah ulama Najd yang menyerukan pemurnian akidah dan kemudian bersekutu dengan Muhammad bin Saud pada 1744. Aliansi ini menjadi fondasi Negara Saudi Pertama. Gerakannya melahirkan ekspansi politik-militer, kontroversi takfir, penguasaan Hijaz, dan perlawanan Utsmani-Mesir yang berakhir dengan jatuhnya Diriyah pada 1818.
Catatan istilah: Istilah “Wahhabisme” digunakan secara historis. Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab umumnya lebih suka menyebut diri Salafi atau Ahl al-Tauhid. Label “Wahhabi” memiliki makna teologis, politik, dan historis yang berbeda-beda, sehingga tidak selalu tepat disamakan dengan seluruh penganut Salafi atau seluruh warga Arab Saudi.
1. Latar Belakang dan Kelahiran
Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi lahir pada 1703 M (1115 H) di ‘Uyainah, wilayah Najd, Jazirah Arab. Ia berasal dari keluarga ulama Hanbali; ayahnya adalah seorang qadhi di ‘Uyainah dan Huramila. Ia wafat pada 1792 M (1206 H) di Al-Dir‘iyyah dalam usia sekitar 89 tahun.
2. Pendidikan dan Guru-guru
Ia menuntut ilmu di Makkah, Madinah, Basra, Baghdad, dan sejumlah kota lain; sebagian riwayat menyebut perjalanan ke wilayah Iran. Di Madinah ia belajar kepada Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad Hayat al-Sindi. Muhammad Hayat al-Sindi dikenal sebagai guru hadis yang mendorong ijtihad dan menolak taklid buta, serta berpengaruh dalam pembentukan kecenderungan reformis Muhammad bin Abdul Wahhab.
Klaim bahwa kedua guru itu “meramalkan kesesatan dan kekufuran” Muhammad bin Abdul Wahhab berasal dari narasi polemik pihak penentang, bukan fakta yang disepakati semua sejarawan. Karena itu, klaim tersebut perlu disajikan sebagai riwayat dari pihak lawan, bukan sebagai fakta netral.
3. Dakwah dan Aliansi dengan Bani Saud
Sepulang dari perjalanan ilmiah, Muhammad bin Abdul Wahhab menyerukan pemurnian akidah, khususnya tauhid dalam ibadah, serta menolak praktik yang ia anggap syirik, bid‘ah, atau khurafat. Kritik utamanya ditujukan kepada ziarah kubur yang disertai permintaan hajat, sumpah kepada selain Allah, dan pemujaan terhadap makam atau tokoh.
Pada sekitar 1744 M (1157–1158 H), ia bersekutu dengan Muhammad bin Saud, amir Diriyah. Dalam perjanjian itu, Muhammad bin Saud memberi perlindungan politik dan militer, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab memberi legitimasi keagamaan bagi kekuasaan Saud. Aliansi agama-politik inilah yang menjadi fondasi Negara Saudi Pertama (1744–1818) dan kunci ekspansi gerakan.
4. Doktrin dan Kontroversi Takfir
Ajaran inti Muhammad bin Abdul Wahhab menekankan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Karyanya yang paling terkenal adalah Kitab al-Tauhid, yang membahas pengesaan Allah dalam ibadah dan larangan menyekutukan-Nya. Ia menolak sumber doktrin di luar Al-Qur’an dan Sunnah serta mengecam praktik yang tidak berakar pada kedua sumber tersebut sebagai bid‘ah.
Kontroversi muncul karena sebagian penerapan gerakan ini dipandang melahirkan takfir, yaitu mengafirkan Muslim yang melakukan praktik tertentu. Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahhab, menulis al-Sawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah untuk membantah kecenderungan takfir dan kekerasan penilaian terhadap sesama Muslim.
Perlu dicatat bahwa pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab umumnya menolak tuduhan bahwa mereka mengafirkan seluruh Muslim; mereka menyatakan hanya mengafirkan orang yang melakukan syirik akbar menurut dalil mereka. Namun, dalam praktik politik-militer ekspansi Saudi Pertama, label “musyrik” kerap dikenakan kepada kelompok Muslim lain yang menolak dakwah mereka. Inilah salah satu sumber konflik yang terdokumentasi.
5. Ekspansi dan Penguasaan Hijaz
Setelah aliansi dengan Bani Saud, pengaruh gerakan meluas dari Najd ke timur dan barat Jazirah Arab. Kekuasaan Saudi-Wahhabi mencakup Al-Ahsa, pesisir Teluk, serta sebagian Irak dan Syam. Pada 1801/1802 mereka menyerang Karbala; pada 1802 pasukan Saudi-Wahhabi merebut Taif; pada 1803 mereka menguasai Makkah; dan Madinah menyusul pada 1804. Selama menguasai Hijaz, mereka menghancurkan sejumlah makam, kubah, dan bangunan yang dianggap sarana syirik. Tindakan ini menjadi salah satu sebab utama kemarahan Utsmani dan ulama Hijaz.
Catatan kronologi: Tanggal penyerangan Karbala bervariasi antar sumber—1801 atau 1802—tetapi urutan umumnya diterima: Karbala, Taif, Makkah, lalu Madinah.
6. Perlawanan Utsmani-Mesir dan Akhir Negara Saudi Pertama
Kekuasaan Saudi Pertama menantang otoritas Utsmani karena menguasai Hijaz, wilayah dua kota suci. Sultan Utsmani memerintahkan Muhammad Ali Pasha, gubernur Mesir, untuk menumpasnya. Perang Utsmani-Saudi berlangsung dalam beberapa gelombang. Pada 1818 M (1234 H), Ibrahim Pasha, putra Muhammad Ali, mengepung dan merebut Diriyah. Abdullah bin Saud menyerah, lalu dibawa ke Konstantinopel dan dieksekusi; Diriyah dihancurkan. Peristiwa ini mengakhiri Negara Saudi Pertama.
7. Kelanjutan Gerakan: Negara Saudi Kedua dan Kerajaan Arab Saudi
Gerakan ini tidak hilang sepenuhnya. Turki bin Abdullah mendirikan Negara Saudi Kedua pada 1824 dengan pusat di Riyadh. Setelah mengalami kemunduran pada akhir abad ke-19, Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud merebut Riyadh pada 1902, menyatukan sebagian besar Jazirah Arab, dan memproklamasikan Kerajaan Arab Saudi pada 1932.
Dalam sejarah modern, identitas Wahhabi menjadi terkait erat dengan negara Saudi, terutama melalui peran ulama Najd dalam legitimasi kekuasaan dan kebijakan keagamaan. Namun, menyamakan seluruh penganut paham Salafi atau seluruh warga Arab Saudi dengan “Wahhabi” secara historis tidak selalu tepat, karena istilah tersebut memiliki makna politik, teologis, dan historis yang berbeda-beda.
8. Catatan Keseimbangan Sumber
- Klaim “lahir 1111 M” tidak akurat; sumber utama sepakat pada 1115 H/1703 M.
- Klaim “hidup hingga 92 tahun” tidak akurat; ia wafat pada 1206 H/1792 M dalam usia sekitar 89 tahun.
- Label “orang badui bodoh” tidak tepat sebagai generalisasi. Sebagian pengikut awal berasal dari masyarakat pedesaan dan tribal Najd dengan latar pendidikan keagamaan terbatas; ini konteks sosiologis, bukan label peyoratif.
- “Membunuh seorang musyrik akan mendapat surga” jika dipakai harus ditandai sebagai kutipan polemik dari literatur tertentu, bukan sebagai doktrin resmi yang dikutip langsung dari kitab Muhammad bin Abdul Wahhab.
- “Berusaha menulis seribu buku” tidak memiliki dasar historis yang kuat. Yang terverifikasi adalah karya bantahan al-Sawa’iq al-Ilahiyyah oleh Sulaiman bin Abdul Wahhab.
- “Bantuan Inggris” perlu nuansa. Hubungan Inggris–Saudi memang ada, tetapi kebangkitan Saudi Kedua (1824) dan pendirian Kerajaan Saudi modern (1932) memiliki dinamika internal sendiri; hindari reduksionisme.
Referensi
- Encyclopaedia Britannica. “Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab.” Britannica. Diakses 2 November 2026.
- Commins, David. The Wahhabi Mission and Saudi Arabia. London: I.B. Tauris, 2006.
- Rentz, George S. The Birth of the Islamic Reform Movement in Saudi Arabia: Muhammad Ibn ‘Abd Al-Wahhab (1703/4–1792) and the Beginnings of Unitarian Empire in Arabia. Arabian Publishing, 2004.
- Al-Rasheed, Madawi. A History of Saudi Arabia. Cambridge: Cambridge University Press, 2010.
- Vassiliev, Alexei. The History of Saudi Arabia. London: Saqi Books, 2000.
- Sulaiman bin Abdul Wahhab. al-Sawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
- Dahlan, Ahmad Zaini. al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
- Crawford, Michael. Ibn ‘Abd al-Wahhab. Oxford: Oneworld, 2014.

